Minggu, 23 Juni 2013

Kembar (Cerpen)


Kembar

***

Rio mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. Sudah beberapa kali ia menguap. Matanya terasa berat, bahkan ia sempat tertidur beberapa saat yang lalu.

Dilihatnya gadis yang sedari tadi duduk di depannya. Gadis itu masih terlihat seperti pertama kali ia duduk. Tetap tenang dengan buku yang sama. Sesekali ekspresinya berubah. Kadang ia mengerutkan keningnya, tersenyum, bahkan samapai melotot.


“Fy, kamu kapan selesainya sih?” akhirnya Rio bicara. Gadis di depannya itu langsung mendongak, memalingkan wajahnya dari buku yang sedaritadi menjadi fokus penglihatannya.

“Sampai buku ini selesai di baca.”

 Rio tak bisa menyembunyikan matanya yang langsung melotot mendengar ucapan kekasihnya itu? Serius menunggu sampai bukunya selesai? Setengahnya aja Ify belum selesai membacanya, paling baru seperempat bagian, dan itu sudah menghabiskan waktu hampir dua jam. Bisa dibayangkan bukunya setebel apa? Jangan ditanya deh itu buku jenis apa. Rio sama sekali gak ngerti sama semua buku yang pernah Ify baca. Bisa mati bosan Rio menunggu Ify sampai menghabisakan buku itu.

“Kenapa?” suara Ify kembali menyadarkan Rio dari bayangan betapa bosannya kalau memang ia harus menunggu Ify. Rio langsung tersenyum masam.

“Gak papa kok..” jawabnya. Sebenarnya Rio sama sekali gak rela bilang ‘gak papa kok’ pada Ify. Padahal aslinya di bosan setengah mati.

“Kamu bosen ya?” kalau boleh Rio jujur, ia akan bicara ‘Iya, gue dari tadi udah bosen Ify!!’. Sayangnya Rio tak akan setega itu pada kekasihnya ini. Dari awal Rio tahu Ify suka membaca, suka menghabiskan waktu berjam-jam untuk tenggelam pada bacaannya itu. Kalau kalimat tadi sampai di telinga Ify, sama saja Rio mengecewakan gadis yang sangat disayanginya itu.

“Enggak kok Fy. Lanjutin aja bacanya.. aku tungguin kok beneran. Gak bosen kok..” jawabnya dengan wajah seceria mungkin.

“Beneran mau nunggu sampai selesai?”

“Iya dong Fy. Masa aku ninggalin kamu sih? Gak mungkin banget kan. Hehehe…”

Rio melihat Ify mengangguk kecil dan kembalin pada bukunya. Muka ceria yang susah payah dibuatnya langsung hilang entah kemana. Rio menghela napas berat. Mungkin ini sudah nasibnya.

“Mau kemana?” Rio melihat Ify berdiri. Jangan sampai Ify berdiri untuk kembali mencari buku lain.

“Pulang. Yuk, aku bacanya entaran aja.” Ify tersenyum.

“Pulang?” Ify mengangguk. Tangannya sudah terulur mengajak Rio untuk meninggalkan tempat ini.

Tentu saja Rio langsung tersenyum lebar. Ah, kenapa gak dari tadi sih Ify mengajaknya pulang? Rio langsung mengambil alih beberapa buku yang ada di tangan Ify. Dengan langkah riang, Rio merangkul kekasihnya itu untuk keluar dari tempat mengerikan ini.

***

“Alvin!!! Sini…” baru saja Alvin, laki-laki yang di panggil itu duduk. Sungguh ia tak tahu apa yang di konsumsi gadis itu sampai ia bisa sekuat itu. Kuat yang dimaksud bukan kuat memiliki otot besar seperti Ade Rai,tapi stamina gadis itu tak habis habisnya padahal sejak tadi pagi merekan sudah berkeliling Taman Mini dan sekarang sudah hampir pukul setengah lima sore.

Hampir semua tempat dan wahana yang ada sudah mereka datangi. Alvin merasa kakinya sudah mau copot. Saat Sivia bilang mau ke toilet, akhirnya ia punya waktu untuk beristirahan sebentar. Namun baru saja ia menempelkan pantatnya pada kursi taman besi yang baru ia temukan –karena kebanyakan kursi taman yang disediakan juga di duduki orang lain- Sivia sudah kembali memanggilnya.

“Vin, kita belum lihat ke anjungan Jawa Barat kan? Tadi kan kita lewatin dulu. Yuk mumpung belum sore..” mungkin karena tadi Alvin tak menghampirinya, Sivia melangkah mendekati Alvin. Gadis itu menarik tangan Alvin dengan sekuat tenaga, menggandengnya lalu kembali berjalan menuju tempat yang ia maksud.

“Vi, kita naik apa kek gitu. Jangan jalan kaki.”

“Kalau naik kendaraan, gak kerasa Vin. Kan kalau jalan kaki semuanya jadi keliatan jelas. Jalannya pelan-pelan, semuanya bisa teramati.” Jawab Sivia bersemangat.

“Kamu gak suka ya jalan-jalan sama aku?” di tengan perjalanan Sivia tiba-tiba melontarkan pertanyaan seperti itu. Tentu saja membuat Alvin sedikit bingung. Awalnya ia memang senang menemani Via yang baru pertama kali ke Taman Mini karena Via memang baru setahun ada di Jakarta. Tapi setelah seharian berkeliling dan nyaris tak beristirahat tentu saja membuat Alvin kelelahan.  Tapi kalau bilang cape, gengsi dong masa kalah sama cewek sih?

“Enggak kok Vi. Udah ini kita pulang ya? Aku ada janji sama Rio..” Sivia tersenyum dan mengangguk. Alvin mngusap sayang puncak kepala Sivia. Setidaknya melihat Sivia yang tersenyum membuat dirinya sedikit bersemangat.

***

“Kenapa sih kalian berdua? Baru juga gue datang mukanya gak enak banget. Bukannya baru jalan sama pacar kalian masing masing?”

“Jalan sih jalan. Tapi liat dong kaki gue sampe lecet begini.” Gabriel tertawa keli menyadari kaki Alvin yang sedang di rendam di sebuah baskom. “malah ketawa lagi lo!”

“Sorry, Sorry Vin. Emang lo dari mana sih? Abis marathon?”

“Abis muterin Taman Mini seharian! Sivia tuh gak ada cape-capenya! Istirahat cuma pas makan siang, beli minuman, atau pas dia ke toilet. Sumpah rasanya kaki gue udah mau copot.”

Gabriel kembali tertawa kecil. Gabriel tahu sekali Alvin seperti apa. Adiknya yang satu ini tak terlalu suka jalan-jalan. Dia lebih senang membaca buku, mendengarkan music atau memetik gitarnya sampai berjam-jam. Alvin tak terlalu suka dengan kegiatan yang membutuhkan banyak tenaga. Dan sekarang Alvin malah dapat cewek yang atraktif seperti Sivia.

Pandangan Gabriel beralih melihat Rio yang terkantuk-kantuk dengan wajah super duper tak enak untuk dilihat. “Lu kenapa Yo? Jangan mentang-mentang kalian kembar, yang satu bad mood yang satu ikutan bad mood juga.”

“Bosen nungguin Ify selesai baca bukunya. Baru kali ini gue date sama cewek cuma diem-dieman.”

“Lo di cuekin gitu?” Rio mengangguk. Gabriel kembali tertawa dengan nasib dua adik laki-lakinya ini.

Rio dan Alvin sangat bertolak belakang. Yang satu senang berdiam diri, yang satu gak tahan lama-lama diam di satu tempat. Yang satu suka jalan-jalan, yang satu malas jalan-jalan.

Yang Gabriel heran, kenapa bisa kebetulan Rio dan Alvin punya cewek yang juga bertolak belakang sama mereka. Kalau mendengar cerita tentang Ify atau Sivia dari mulut keduanya, dan Gabriel mencocokan dengan kriteria cewek Rio dan Alvin, rasanya kreteria cewek idaman Rio itu ada di Sivia, sedangkan cewek idaman Alvin ada di Ify.

“Eh Yo, lo pernah cerita pengen punya cewek yang punya hobi sama kan?” Rio mengangguk. “Lo juga kan Vin?” Alvin pun mengangguk.

“Kenapa kalian gak tukeran pacar aja sih?”

“Apa?” Rio dan Alvin sama-sama terkejut. Tukeran pacar? Maksudnya Rio harus pacaran sama Sivia dan Alvin pacaran dengan Ify? Yang benar saja!

“Enak aja! Gue sayang banget tuh sama Ify!” tolak Rio tak setuju.

“Iya, gue juga sayang banget sama Sivia.” Alvin tak mau kalah.

“Seenggaknya elo berdua pernah ada pengalaman pacaran sama orang yang sehobi sama kalian. Ify suka baca kan? Dia juga suka ngarang-ngarang lagu, cocok banget sama Alvin. Sedangkan Sivia suka banget jalan-jalan, cocok sama Rio yang gak bisa diem.”

Alvin dan Rio saling pandang. Mereka sebenarnya gak mengenal baik pacar kembarannya sendiri. Sivia dan Alvin kan baru pacaran kira-kira sebulan yang lalu. Jadi Alvin belum sempat mengajak Sivia untuk menganal dua saudara laki-lakinya ini. Sedangkan Rio dan Ify memang sudah pacaran lumayan lama. Sekitar empat bulan. Tapi karena jadwal Rio dan Ify yang sering bentrok, Rio juga belum sempat mengenalkan Ify pada Gabriel dan Alvin. Ia hanya pernah bercerita punya dua kakak laki-laki. Dan Rio pernah bilang bahwa satu kakak laki-lakinya adalah kembarannya sendiri.

“Kalian kan kembar identik. Susah lah bedain kalian. Ify belum kenal sama lo kan Vin? Sivia juga belum kenal Rio kan? Mereka gak akan ngeh deh.”

Rio dan Alvin masih terlihat ragu.

“Seminggu deh. Sekalian ngetes kalian juga. Bisa gak tuh bertahan sama cewek kalian masing-masing. Kalau kalian bisa tahan, dan gak bikin Ify juga Sivia gak curiga motor gue boleh lo bawa deh seminggu deh Yo. Lo Vin, softwere musik gue boleh lo pake deh buat bikin satu lagu. Gimana?”  Gabriel manaikan alisnya. Sedangkan Rio dan Alvin saling pandang. Jarang-jarang Gabriel mau meminjamkan barang pribadinya pada mereka. Alvin dan Rio melihat Gabriel tersenyum menantang.

“Seminggu aja kan?” Gabriel mengangguk.

“Oke, gue setuju!” Alvin setuju. Tinggal Rio yang masih tampak berpikir.

“Gimana Yo? Kalau elo gak setuju, Alvin gak mungkin jalanin misi ini.”

“Oke..” akhirnya Rio setuju.

***

Hari pertama.

Rio bilang setiap hari senin Ify selalu meminta di antarkan ke perpustakaan dekat kantor balai kota. Entah apa itu namanya Alvin tak terlalu memperhatikan ucapan Rio. Sebelum jam kuliah Ify selesai, Alvin sudah siap sedia menunggu Ify di depan gedung fakultas Ify.

“Hey…” Alvin terlonjak kaget saat tiba-tiba ada yang menyentuh bahunya. Dilihatnya Ify tersenyum padanya.

“Eh emmm.. jalan sekarang?” Alvin sedikit gugup. Ini kali pertama ia bertemu langsung dengan Ify. Walaupun sebenarnya Alvin satu kampus dengan Rio dan Ify, ia jarang sekali bertemu dengan adik kembarnya apalagi dengan Ify.

“Kamu kenapa?” tanya Ify yang merasa ada yang aneh dengan sosok Rio di hadapannya ini.

“Eh emm.. ngak papa kok. Ayo jalan sekarang.” tak ambil pusing, Ify menerima uluran tangan Rio –Alvin.

Sampailah mereka di perpustakaan yang dimaksud. Ternyata Alvin yang motabene sering bolak-balik perpus kampus baru tahu ada perpustakaan di daerah sini. Apalagi melihat tempatnya yang bersih dan luas. Pasti sangat nyaman berlama-lama di tempat ini. Apalagi melihat koleksi bukunya juga yang terhitung lengkap.

“Koleksinya lengkap juga ya Fy?” sambil membuntuti Ify yang sedang mencari buku, Alvin ikut melihat-lihat koleksi yang dimiliki perpustakaan ini.

“Kamu kemana aja sih?” Komentar Ify. Gadis itu kembali membawa buku tebal yang dulu belum selesai dibacanya saat datang bersama Rio.

“Ya kan gak tahu Fy.” Balas Alvin juga ikut menganbil sebuah buku dan duduk di sebelah Ify.

“Tumben bawa buku. Biasanya kamu juga duduk di depan aku.”

“Ehh…”Alvin menggaruk belakang lehernya. “Pengen duduk aja deket kamu. Hehehe..” jawab Alvin ngeles. Emang Rio gak pernah baca bareng Ify sekalipun?

“Makan permen disini gak papa kan?” tanya Alvin karena tadi ia sempat melihat tanda tidak boleh membawa makanan ke dalam perpustakaan.

“Biasanya juga makan permen kan?”

“Haha. Ngetes aja..” Alvin mengeluarkan permen karet dari dalam saku celananya. “Mau?”

Ify menggeleng. Mereka langsung tenggelam dalam dunianya masing-masing. Sampai akhirnya mereka pulang, Alvin tak merasa Ify curiga padanya. Ternyata menjalani sehari dengan Ify tak terlalu sulit. Menunggui Ify sampai selesai membaca? Itu sih kecil.

Hari pertama Alvin? Clear !!

***

“Lihat deh. Bagus kan?” Rio mengangguk kecil. Ia sangat terpukau dengan semua lukisan yang ada di pameran ini. Semuanya memiliki nyawa. Lukisan itu seolah bercerita tentang apa yang ingin diungkapkan pelukis dalam lukisannya itu.

“Panas nih. Aku beli es krim dulu deh diluar.”

“Oke,,” Rio pun meninggalkan Sivia yang masih terkagum-kagum dengan lukisan yang sedang dilihatnya. Jadi gini ya gaya pacarannya Alvin? Kayaknya Via selalu punya tempat baru untuk dikunjungi. Walaupun dia terhitung baru tinggal di Jakarta, tapi sepertinya Via punya segudang informasi tentang tempat-tempat unik yang tentunya pas di kantong untuk dikunjungi.

“Fy, nih..” Rio menyodorkan es krim coklat pada Sivia. Sedangkan ia sendiri memegang es krim rasa vanilla.

“Kamu gak lupa aku alergi coklat kan Vin?”

Eh, Rio tersadar. Ia bukan jalan bersama Ify. Es krim coklat kan memang eskrim kesukaan Ify. Tadi pun ia sempat memanggil Via dengan ‘Fy’. Untung saja bunyinya sama.

“Eh, maksudnya yang ini.” Menyodorkan es krim ditanga kirinya. Untung belum Rio jilat di jalan tadi.

Rio kembali melihat Sivia tersenyum. Untung aja nama panggilan Ify bunyinya sama dengan panggilan Sivia. Bisa gawat kalau sampai ketahuan.

Mereka kembali asik jalan-jalan kesana kemari. Sesuatu yang jarang Rio lakukan bersama Ify.


Hari pertama Rio? Clear !!

***

Hari pertama sih oke-oke aja. Hari kedua, lumayan seru. Hari ketiga, Rio mulai pusing dengan tingkah laku Sivia. Apalagi hari ini. Sivia minta di temani belanja ke supermarket. Awalnya Rio iya-iya aja. Sivia bilang mau belanja buat satu bulan. Paling Cuma beli makanan Ringan, makanan cepat saji, pokoknya barang-barang yang bisa di simpan dalam jangka waktu yang lama. Maklum lah, Sivia kan anak Kos.

Tapi ternyata belanjanya Sivia tuh lama banget. Dia jalan kesana kemari, melihat produk apa yang akan dibelinya. Bukan hanya apa yang di prediksi Rio, Sivia beli segala macam yang gak di duga-duga. Seperti piring, gelas, malah sampai ada panci di dalam trolly yang mereka bawa. Di tambah Sivia cerewet sekali. Rio yang biasanya bicara ini itu, hanya diam di samping gadis itu sambil mendorong trolly. Berdeda sekali dengan Ify yang kalem, lemah lembut.

Rio jadi berpikir lagi untuk terus menjalajan rencana ini. Masa bodo dengan sepeda motor Gabriel. Yang pasti ia ingin sekali kembali secepatnya pada Ify.

“Alvin.. tolongin dong…” Sivia berteriak dari ujung lorong. Dengan malas, Rio menghampiri Sivia.

“Kenapa?”

“Bawain itu dong…” Sivia menunjuk makanan cepat saji yang terletak paling atas.

“Nih…”

“Oke.. kita ke—“

“Vi, kita istirahat dulu ya? Sumpah pegel banget nih kaki.” Rio berharap Sivia mengiyakan permintaannya itu.

“Kamu cape Vin? Maaf, kenapa kamu gak bilang dari tadi?” Sivia terlihat menyesal. “Apa kamu juga cape selama ini nemenin aku kesana kemari?”

Rio jadi merasa tak enak. “ehh.. enggak kok Vi. Aku baru capenya sekarang nih.”

“Ya udah, kita istirahat yaa. Lain kali kalau kamu cape, bilang yaa..” Sivia mendorong trolly yang di pegangnya mencari tempat untuk duduk.

Sekarang Rio mengerti, Alvin hanya cukup meminta Sivia untuk beristirahat dan Sivia tak akan keberatan.

***

Alvin menguap dua kali. Ia sekarang sedang ada di rumah Ify. Ini sudah hari ke empat dari tantangan yang diberikan Gabriel. Ternyata dimana-mana Ify gak lepas dari buku. Entah itu buku apa. Pantas Rio bosan lama-lama kalau terus dicuekin kayak begini.

Kebosanan Alvin makin lengkap saja dengan Ify yang jarang bicara. Memang saat Ify bersama Rio, Rio lah yang sering mengajak Ify bicara. Laki-laki itu bisa bicara semaunya. Walaupun kadang Rio bicara saat Ify sedang membaca, tapi Ify selalu menangkap apapun yang diceritakan Rio.

Alvin jadi kepikiran Sivia. Sedang apa ya gadis itu? apa dia bahagia bersama Rio? Bagaimana bila setelah semua ini berakhir, Sivia malah suka dengan sikap Rio? Mereka kan sama-sama suka jalan-jalan.

Alvin jadi kangen dengan senyum Sivia. Kangen melihat Sivia yang begitu bersemangat dengan segala sesuatu yang dilihatnya. Kangen Sivia yang cerewet.

“Rio…”

“Eh iya? Kenapa Fy?” Alvin kembali dari pikirannya.

“Aku pengen bilang sesuatu sama kamu,.”

“Apa?” Alvin terlihat bingung. Ify nampak serius dengan apa yang ingin dikatakannya.

“Aku tahu kamu bukan Rio.” Tentu saja itu membuat Alvin terkejut. Alvin jadi gelagapan sendiri. Ah bisa gagal semua rencananya denga Rio dan Gabriel.

“Lho? Kok kamu ngomongnyan gitu? Kalau bukan Rio siapa lagi?” Alvin berusaha untuk tidah gugup. Bagaimana ini? Kenapa Ify sampai bisa curiga? Padahal mereka gak sering komunikasi.

“Kamu Alvin. Kembarannya Rio.”

Oh My God! Ify benar-benar bisa menebak siapa dirinya.

“Gak papa kok. Aku gak akan marah.” Alvin tahu ada kesedihan dari nada bicara Ify. “Aku kenal Rio gak sebentar. Walaupun baru empat bulan aku jadi pacar Rio. Tapi aku juga kenal Rio. Dia gak pernah tertarik sama buku-buku. Rio gak pernah tahan nunggu. Rio gak makan permen karet dan yang paling penting, Rio gak pernah gak bĂȘte nunggu aku di perpus.”

Alvin menghela napas. Ternyata Ify begitu mengenal Rio. Bahkan ia tak tahu kalau adik kembarnya itu gak makan permen karet.

“Maaf..”

“Gak perlu minta maaf. Aku tahu Rio bosan. Tapi dia selalu menunjukan kalau dia gak bosan. Mungkin sekarang Rio udah jenuh. Tolong bilang sama Rio. Aku gak marah kalau dia mau jujur kalau dia bosen sama aku. Aku gak akan nahan dia.”

Alvin melihat Ify tersenyum walaupun Alvin bisa merasakan sakit yang di alami Ify. Apa Sivia juga curiga pada Rio?

“Kamu boleh pulang..” Ify sudah berdiri di ambang pintu, membukakan pintu untuk Alvin.

‘Sorry Yo..’ batin Alvin menyesal. Pasti setelah ini akan ada yang berubah dengan hubungan Ify dan Rio.

***

“Yo..”

“Vin..”

Alvin dan Rio tersenyum. “Lo duluan deh..” kata Alvin mengijinkan Rio untuk bicara.

“Gue gak mau lanjutin ini semua. Yaa walaupun tinggal tiga hari lagi, gue mau mundur aja. Gue kangen sama Ify..” mendengar nama Ify, Alvin jadi ingat apa yang ingin ia sampaikan pada Rio. Bagaimana reaksi Rio bahwa Alvin sudah ketahuan?

“Yo Sorry,,”

Rio mengerutkan keningnya. “Sorry? Emangnya lo salah apa sama gue?”

“Ify.. Ify..”

“Kenapa sama Ify?”

“Ify tahu gue bukan elo..”

“Apa?” Rio terkejut.

“Ify terlalu mengenal elo. Dia tahun gue bukan elo.”

“Terus sekarang gimana?”

“Elo mending temuin dia sekarang. Ify ada di rumahnya. Bilang kalau lo gak bosen sama dia. Itu juga kalau lo masih sayang sama Ify.”

***

“Rio..?”

“Iya Fy. Ini aku Rio. Bukan Alvin..” kali ini Rio sudah berdiri di depan pintu rumah Ify.

“Kamu udah denger pesanku dari Alvin?” Rio diam. Sebenarnya entah apa yang Ify bicarakan pada Alvin. “Aku tahu kamu bosen sama aku. Kalau kamu mau kita pu—“

“Enggak Fy, aku mau kita kayak dulu. Aku emang bĂȘte kalau harus nunggu kamu di perpus, tapi aku nikmatin saat-saat aku sama kamu.”

“Empat hari bareng Sivia, pacar Alvin, aku kahilangan kamu Fy. Aku mungkin baru sadar kalau aku yang cerewet ini cocok sama kamu yang diem. Aku jadi gak sering jalan-jalan ngabisin duit karena kamu gak suka jalan-jalan. Cuma kamu yang bisa kontrol aku Fy.”

“Kasih aku kesempatan sekali lagi ya?” Rio menatap Ify penuh harap. Ia tahu Ify yang tak tahu apa-apa sudah tersakiti dengan tingkahnya ini.

“Okee..” jawab Ify akhirnya. Ify tersenyum. Senyum yang sangat dirindukan Rio.

“Makasih Fy…” Rio memeluk erat tubuh kekasihnya itu. Sampai kapanpun Ify akan jadi yang terbaik untuknya.

***

“Viaa cape…” Sivia menghentikan sepedanya dan menoleh ke belakang. Alvin sudah turun dari sepedanya dan duduk di aspal. Sivia kembali membawa sepedanya menghampiri Alvin. Ia memarkir sepedanya di sebelah Alvin, lalu duduk di sebelahnya.

“Nih minum dulu..” Sivia menyerahkan sebotol air mineral pada Alvin.

Kini Alvin gak perlu gengsi-gensi lagi sok kuat di hadapan Via. Semuanya berubah setelah Rio menceritakan pengakuan capeknya pada Via. Dan sampai sekarang Sivia gak tahu dia pernah empat hari bareng Rio. Kembarannya.

***

2 komentar:

  1. Keren nih keren apalagi rify sama alvia couple nya..

    Numpang nitipin link yaa.. Atau kalau mau berkunjung juga gak papa: obat kista tradisional

    thank you..

    BalasHapus