Minggu, 18 Desember 2011

Salah (Cerbung bag.1)

“HAH ?? Jadi cewek abang? Gila lo bang !!” gadis itu terlihat sangat terkejut mendengar permintaan seorang laki-laki yang kini ada di depannya. Gadis itu menggelengkan kepala. “Enggak !! gue gak mau!” tolaknya mentah-mentah. Laki-laki itu pun tampak kecewa. Didekatinya gadis itu dan ia kembali merayu agar gadis itu menuruti keinginannya.
“Ayolah Fy, gue gak punya harapan lagi nih. Cuma elo yang bisa bantuin gue” laki-laki itu merajuk. Gadis yang di panggil ‘Fy’ itu pun kembali menggeleng. “Fy, lo gak kasihan sama gue?”
“Buat apa gue kasihan sama lo? Lo bisa kan cari yang lain? Kenapa harus gue sih? Apa juga untungnya buat gue kalau gue mau jadi cewek lo” gadis bernama Ify itu kembali menghindari laki-laki tadi. Masih dengan tangan yang ia lipat di dada gadis itu berdiri membelakangi laki-laki itu.
“Elo perhitungan banget sih jadi orang !”
“Hey, di dunia ini gak ada yang gratis bang!”
“Oke, elo boleh minta apa aja sama gue” Ify melirik laki-laki itu sebentar lalu tersenyum licik. “Ayolah Fy.. Cuma elo yang bisa bantuin gue. Cuma elo orang yang pasti Shillan percaya kalau kita emang gak ada hubungan apa-apa” Ify kembali berfikir. Kembali diliriknya pemuda itu, lalu ia berbalik.
“Oke, gak ada salahnya gue bantuin elo..”
“Ahh.. Ify cantik baik banget sih.. kalau git---”
“Eittsss.. tapi jangan lupa sama kalimat elo tadi. Gue boleh minta apa aja sama elo”
“Iya bawell..” laki-laki itu mengusap pelan puncak kepala Ify lalu pergi. Sampai di ambang pintu ia kembali berbalik. “Jadi besok pagi elo ke sekolah bareng sama gue”
“Iya..”
***
Suasana berbeda dirasakan Ify saat ia baru saja sampai di sekolahnya. Memang tak ada yang berbeda dengan sekolahnya. Sejak ia masuk ke sekolah ini sekitar enam bulan yang lalu, tak ada satu sudut pun yang direnovasi atau di perbaiki. Hanya saja pandangan setiap orang yang ada di lapangan parkir kecil sekolahnya ini (sangat) membuatnya risih.
“Elo kenapa Fy?”
“Hah..” Ify tersadar. Tatapan tatapan aneh itu membuatnya tak menyadari kini motor yang ditumpanginya bersama seorang laki-laki tinggi itu sudah dalam posisi siap ditinggalkan.
“Elo kenapa? Turun duluan gih..” Ify pun hanya menurut saja. Gadis itu berdiri di dekat motor dan menunggu laki-laki itu.
“Yuk..” laki-laki itu mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh ify.
“Nanti elo tunggu di sini aja. Ntar gue yang kesini” Ify hanya mengangguk saja. Laki-laki itu tersenyum. Sebelum pergi diusapnya pipi gadis manis itu.
“Fy,, itu kak Cakka ya?”
“Ya ampun.. Via elo ngagetin ahh..”
“Elo kesekolah bareng ka Cakka?” tanpa menggubris pernyataan gadis di depannya ini, gadis itu lebih tertarik dengan pertanyaan yang belum Ify jawab.
“iya. Kenapa emangnya?” Via, atau lengkapnya Sivia mengerutkan keningnya. Yang barusan dia lihat memang benar Cakka, dan Ify pun meng’iya’ kan pertanyaannya. Sedangkan Ify malah dengan santainya pergi menuju singah sananya di kelas itui, meninggalkan Sivia yang masih terbengong heran. 
“Ify.. elo ada hubungan apa sama kak Cakka??” teriaknya agak kencang sambil menghampiri Ify yang baru saja duduk di bangku kesayangannya. Sontak orang-orang di dalam kelas itu pun tersita perhatiannya dan juga ikit penasaran dengan pertanyaan Sivia. Masalahnya bukan karena Ify. tapi Sivia menyebutkan sebuah nama yang sudah tak asing lagi menjadi topic pembicaraan para remaja di sekolah ini.
“Aduh Via, elo berisik banget sih? Semuanya jadi ngeliatin gue kan!” cercanya kesal. Sivia hanya bisa memamerkan sederetan gigi cantiknya di depan sahabatnya ini.
“Elo ada hubungan apa sama kak Cakka?” Ify menoleh kea rah sumber suara. Agni, gadis yang ify tau sudah lama mengidolakan Cakka itu pun akhirnya buka suara, ikut penasaran dengan pertanyaan sivia.
“Aduh,.,, elo sih Vi”
“Jawab aja kali Fy, gue gak papa ko kak Cakka pacaran sama elo. Kita kan Cuma ngefans aja. Iya gak?” diikuti dengan anggukan beberapa orang yang juga mengidolakan Cakka.
“Malah kita untung kalo elo jadian sama dia. Pastikan nanti sering ke sini. Tapi elo jangan cemburu kalau kak cakka kita liatin. Heheheee..”  Zahra pun ikut buka suara
“Aduhh.. Agni, Zahra dan semuanya gue sama kak Cakka ngeee..” Ify menggaruk belakang lehernya. Apa yang harus ia jelaskan pada teman-temannya ini? Ah.. semua gara-gara Cakka! Baru sehari suda seperti ini? Ini baru dikelasnya saja, diluar bagaimana?
“Elo semua tanyain aja sama tu orang kalau mau tau gimana hubungan gue sama dia” tak memperdulikan suara-sura nyaring teman-temannya Ify memasang headset di telinganya.
***
“Fy, pulang bareng gak?” gadis itu menggeleng pelan.
“Enggak.. elo duluan aja. Gue bareng cakka kok..” Sivia pun tersenyum sambil menyenggol lengan sahabatnya ini.
“Ciee Ify.. iya deh gue ngalah buat kak Cakka. Siap-siap patah hati nih.. elo sama kak Cakka kapan pedekatenya?”
“pedekate? Apaan sih lo” Ify pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Gue tuh gak pernah liat elo bareng sama Kak cakka, eh tau tau udah jalan ke sekolah berdua aja. Ckckc.. gue kira elo sukanya sama Gabriel gitu.. elo kan deket sama dia. Tapi gak masalah sih. Semua kan elo yang ngejalanin. Sebagai sahabat, gue Cuma mau yang terbaik aja buat elo. yaudah gue duluan ya Fy.. dahhh Ify” Ify tersenyum kecil sambil memperhatikan punggung gadis beramput pendek itu. Ah, apa setega itu ia membohongi gadis manis tadi? Eh,, ia tak berbohong. Sejak tadi pagi ia tak pernah berbicara yang tak sesuai kenyataan. Hanya saja ia tak mengatakan yang sebenarnya.
Mendengar perkataan Sivia tadi, ia jadi teringat pada Gabriel. laki-laki hitam manis ini adalah kakak kelasnya. Ify tersenyum kecil membayangkan wajah rupawan laki-laki itu. Hari ini ia tak bertemu dengan Gabriel. kemana laki-laki itu?
Ify melirik jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Kok Cakka lama sekali? Gadis itu tersenyum, sebuah ide muncul di otaknya. Cakka dan Gabriel kan satu kelas. Dengan langkah pasti gadis itu melangkah meninggalkan kelasnya dan berjalan menuju kelas Gabriel (kelas Cakka).
“Ify..” baru saja ia ingin mencari laki-laki itu, kini suaranya sudah terdengar memanggilnya. Ify tersenyum. “Belum pulang?” Ify menggeleng. Pertanyaan bodoh sebenarnya. Jelas-jelas Ify ada di sini sekarang. Ya berarti ia belum pulang.
“Belum kak. Hehe..”
“Ada apa? tumben kesini? Kamu ada perlu sama aku?”
“Aku cari abang.. eh, maksudnya kak Cakka. Kakak tau kak Cakka kemana?” Gabriel mengerutkan kening. Untuk apa Ify mencari Cakka? Gabriel pun menggaruk kepala bagian belakannya. Merasa malu juga ternyata bukan ia yang Ify cari.
“Cakka? Kayaknya lagi di koprasi deh Fy. kamu cari aja kesana”
“Oke.. makasih kak..”
***
“Aduh Sya.. gue beneran gak bisa nganter elo. Gue harus buru-buru pulang”
“Elo alesan Kka.. setiap gue minta anter pasti elo nolak, ayolah Kka..” Sasya, gadis it uterus merajuk. Lama-lama cakka risih juga. Ini lah salah satu alas an cakka meminta ify menjadi pacar (pura-puranya). Untuk menghindari perempuan macam Sasya dan kawan-kawannya.
Diliriknya jam dinding yang terpanmpang di salah satu permukaan dinding koprasi sekolahnya itu. Ify pasti nunggu
“Cakka, ayolah. Gue Cuma minta elo anter ke café itu. Setelah itu elo boleh pergi”
“Permisi ka.. saya cari kak Cakka, ada?” dua orang itu pun menoleh. Cakka tersenyum lega. Dihampirinya Ify dengan semangat.
“Gue harus nganter Ify balik Sya. Sorry” dengan senyumnya cakka merangkul Ify. walaupun tak tau apa-apa Ify hanya tersenyum pada perempuan yang dipanggil ‘Sya’ itu.
“Dia siapa?”
“Ify.. cewek gue”
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar