Senin, 06 Agustus 2012

About Us [10] Kesempatan..


About Us [10] Kesempatan.. 

“Baik sekali dia mau mengantarkanmu samapai rumah.” Ify hampir saja lupa Alvin ada di rumahnya. Ia menoleh, ia baru ingat tadi sempat mengacuhkan Alvin. “Cowokmu?” Ify mengernyit. Alvin tersenyum jahil melihat perubahan di wajah cantik calon adik tirinya itu. Ternyata masih ada cowok yang mau dekat dengan Ify. Setelah bertemu di mal waktu itu, Alvin tak menemukan apapun yang membuat laki-laki tertarik dari sosok Ify. Kecuali wajah cantiknya tentunya.


“Dia tinggal dimana?”

“Perumahan Indah Permai.” Alvin tersenyum miring. Ternyata tetep saja nada ketus itu ia dapatkan. Alvin mulai suka dengan sikap Ify yang seperti ini. Cukup menantang! “Tapi bukan dia kan yang bawa kamu kabur?” Ify membatalkan niatnya untuk meninggalkan Alvin dan segera mencari mamanya ketika kalimat itu meluncur tiba-tiba dari mulut Alvin.

“Bukan.” Jawabnya tak terima. Entah mengapa ia tak rela ada yang menyalahkan Rio atas semua yang ia lakukan. Mm mungkin bukan hanya Rio, tapi semua orang yang kebetlan posisinya sama dengan posisi Rio. “Aku mau ketemu mama. Permisi..”

“Tante Shintia lagi istirahat. Dia baru bisa tidur. Lebih baik kamu gak usah ganggu dia dulu.” Usul Alvin ada benarnya. Pasti mama lelah karena memikirkan dirinya. Mungkin besok pagi Ify baru akan menemui mamanya. Ini pasti jadi kejutan untuk mamanya nanti.

“Fy, jangan pernah kabur lagi. Saya kasihan liat mama kamu. Beliau terlihat sedih sekali.” Langkah Ify terhenti. Ia mendongak melihat Alvin sebantar, lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya di lantai dua.

Baru beberapa langkah berjalan di tangga, Ify kembali berhenti. “Aku tahu aku lebih muda dari kamu. Aku gak nyaman sama gayak bicaramu. Terlalu formal. Bisa kan pakai bahasa selayaknya kakak adik? Selamat malam kak Alvin.”

Alvin terperangah. Ia masih bisa melihat punggung Ify yang semakin lama semakin mengecil dan akhirnya menghilang seiring tingginya anak tangga yang Ify naiki. Kak Alvin? Gadis itu baru saja memanggilkan kakak? Ini sulit di percaya. Kalau memang laki-laki tadi yang membawa Ify pergi, Alvin pasti akan berterima kasih pada laki-laki itu. Bukan hanya karena Ify memanggilnya kakak, tapi gadis itu juga menginginkan komunikasi seperti layaknya kakak adik.

***

Hari ini Ify benar-benar lupa bagaimana caranya untuk tidak tersenyum. Hari ini, Ify merasa menjadi seseorang yang baru. Tanpa beban, dengan perasaan yang lega, dan tentunya dengan segala sesuatu yang akan lebih baik lagi.

Ify turun dari motor Alvin, lalu melambaikan tangannya saat motor itu kembali berjalan setelah ia mengucapkan terima kasih pada Alvin.

“Ify ??” Ify menoleh, dan senyumnya semakin melebar saat melihat gadis cantik yang mendadak meminta di turunkan dari motor yang sedang di tumpanginya tepat di dekatnya. Gadis itu memeluk Ify erat. Benar-benar senang melihat gadis itu ada di sekolah.

“Elo keliatan seneng banget hari ini. Gimana udah selesai urusannya?” tanya Shilla sambil mengurai pelukannya. Ify kembali tersenyum manis. Entahlah rasanya ia ingin terus tersenyum dan tersenyum.

“Elo gak kurang istirahat kan Fy?” Shilla dan Ify menoleh pada pengendara motor yang tadi Shilla paksa untuk menurunkan dirinya, Rio.

“Enggak kok. Thanks ya Yo.” Ify tersenyum. Melihat Ify tersenyum rasanya seluruh sel di tubuh Rio ikut tergugah untuk merasakan juga kebahagiaan gadis itu. Rio ikut tersenyum.

“Syukur deh kalau kayak gitu. Gue parkir motor dulu ya?” Shilla dan Ify mengangguk. Tak lama motor Rio kembali berlalu menembus siswa-siswi yang sedang berjalan menuju tujuan mereka masih masing.

“Rio gak pernah sesemangat ini loh Fy. sepulang dari rumah elo kemarin, dia happy banget. Lebih-lebih dari waktu dia dapet motor yang sekarang di pakainya itu.”

“Apaan sih Shil. Lebay benget deh perasaan. Ke kelas yu??” Shilla hanya tertawa. Bukan hanya Rio saja yang bahagia. Dirinya pun sangat bahagia. Seperti yang dibilangnya tadi, Shilla tak pernah melihat Rio sesenang ini. mungkinkah kini Rio telah menemukan sesuatu yang hilang dalam dirinya? Kalau memang iya, dan semua itu ada di dalam diri Ify, Shilla akan sangat bersyukur karena Ify pernah kabur dari rumahnya dan meminta bantuannya.

***

“Ayo cerita. Elu utang banyak cerita sama gue!” Prissy langsung duduk di depan meja ify setelah ia memutar kursinya agar menghadap Ify. Sekali lagi Ify bisa tak tersenyum. Hidupnya hari ini begitu penuh dengan senyuman.

Prissy sudah siap dengan posisinya untuk meminta penjelasan Ify. Tadi pagi Ify memang sengaja tak menceritakan apapun pada sahabatnya ini. biarkan saja gadis ini penasaran.

Dan kali ini, Ify harus menepati janjinya. Tadi Ify berjanji untuk menceritakan semuanya pada Prissy saat jam istirahat berbunyi. Dan baru saja suara nyaring namun terdengar sangat indah itu pun mengalun.

“Gue harus cerita dari mana?” Tanya Ify. Sebenarnya tak banyak yang bisa ia ceritakan pada Prissy. Karena memang tak banyak yang terjadi di rumah Shilla waktu itu.

“Mmmm.. Elo kabur kemana? Siapa yang nampung elo selama elo kabur? Yang terpenting siapa yang bikin elo sadar dan pulang?” sepertinya prissy sangat bersemangat mendengarkan ceritanya. Sampai tiga pertanyaan sekaligus gadi itu suguhkan untuk Ify.

“Sebenernya, gue gak kabur. Sepulang dari rumah elo, gue dapet sms dari seseorang, dia ngajakin gue main ke rumahnya. Akhirnya gue mau, dan yaa gue pikir di rumahnya itu gue bisa terhindar dari orang-orang yang terus maksa-maksa gue.”

“And than,, orang itu juga yang mint ague pulang. Minta gue untuk minta maaf sama mama. Dia juga yang nyadarin gue betapa bodohnya gue gak pernah menganggap laki-laki di dunia ini.”

“Pokoknya gitu deh Pris. She is Special.” Ify tersenyum. Ia masih ingat bagaimana cara Shilla menyadarkannya.

“Dia siapa? Cowok ya Fy?”

Ify mengerutkan kening, lalu tertawa. Ia memukul lenganPrissy dengan buku tulis yang ia gulung sebelumnya.

“Ify sakit!” Ify malah tertawa melihat Prissy yang mengaduh kesakitan. Sahabatnya ini kadang-kadang memang agak lamban, tapi Prissy pun sahabat yang sangat setia.

“Elo gak denger gue ngomong apa? She, bukan he. Ya pasti cewek lah..”

“Oh iya..” Prissy menggaruk tengkuk kepalanya. whatever lah mau cewek apa cowok. Yang penting orang itu berhasil membuka pintu hati Ify untuk laki-laki yang ada di dunia ini.

***

“Maaf mas saya terlambat.” Laki-laki itu hanya tersenyum dan menggeleng pelan.

“Gak papa. Maaf saya gak bisa nemenin kamu disaan Ify hilang kemarin.” Shintia tersenyum samar. Walaupun Pratama tak menemaninya, kehadiran Alvin sangat bisa menggantikan laki-laki itu untuk menemani dan menenangkannya.

“Alvin anak yang baik. Dia sangat membantu saya.” Kali ini pratama yang tersenyum lega. Semoga saja Shintia benar-benar bisa menerima Alvin menjadi anaknya nanti. “Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan mas.”

“Itu kan yang buat kamu minta saya datang ke sini?” Shintia mengangguk. “tentang apa?”

“Ini tentang Ify.”

“tentang ify? Kenapa lagi sama Ify? Dia belum bisa menerima kehadiran kami? Kamu jangan khawatir. Saya dan Alvin akan setia menunggu.”

Shintia menggeleng. “Bukan seperti itu mas. Saya gak mau nyakitin lagi hati Ify. Saya gak mau maksa dia lagi mas. Saya gak bisa kehilangan dia.” Pratama terlihat bingung. Ia belum paham betul apa maksud dari kalimat Shintia. “bukannya saya gak sayang sama mas Pratama dan juga Alvin. Saya senang sekali bisa bertemu dengan kalian berdua. Malah, saya sudah anggap Alvin sebagai anak saya sendiri. Tapi saya gak bisa kehilangan Ify mas.”

“Kamu mau membatalkan rencana pernikahan kita?” Pratama berharap Shintia menggeleng atau menyangkal pertanyaannya. Shintia hanya diam, menunduk menenggelamkan wajahnya dalam-dalam.

“Shintia, jawab saya..” sekali lagi Pratama meminta jawaban Shintia.

“Maaf mas. Saya benar-benar gak bisa lihat Ify kecewa. Saya gak bisa kehilangan dia.” Pratama menghela nafas. Mungkin ia memang bukan ABG lagi, tapi tetap saja mendengar semua itu membuatnya hancur.

“Saya harus kembali ke kantor mas. Terima kasih untuk semuanya.”

***

“hey.. ikut?” Ify terpaksa menghentikan langkahnya saat tiba-tiba motor besar Rio berhenti di sebelahnya. Lagi-lagi Rio tersenyum. Ternyata senyum laki-laki ini memang manis.

“Gak usah, duluan aja..”

“Hah??” Ify ingin tertawa melihat raut wajah Rio. “Apa Fy gak kedengeran?”nampaknya Rio memang tak mendengar jawabannya. Ify tersenyum dan menggeleng samar.

“Duluan aja..”

“Ayolah.. gue anterin pulang ya?” Rio tetap memaksa.

“Rumah elo sama rumah gue kan kayak dari timur ke barat Yo..”

“Ya gak papa. Justru karena itu, gue harus nganterin elo pulang. Mau ya?” Rio tersenyum lagi.

“Gak usah Yo.” Tolak Ify lagi. “Lagian Shilla nanti marah lagi.”

“Jamin deh Shilla gak akan marah. Gue yang jamin deh.” Rio benar-benar tak mau menyerah.

“Nanti ada yang marah lagi.” Ify masih bersikeras untuk tak menerima ajakan Rio. Ia memang membuka hatinya untuk orang lain, tapi ia juga tak mau merepotkan Rio.

“Siapa yang marah? Pacar? Gue jomlo Fy. kalaupun nanti gue punya pacar, pacar gue kan pasti elo.”

“hih.. pede banget sih? Gue gak suka cowok gombal ya..” Rio malah nyengir kuda.

“Ayo Fy, gue anter ya?” kali ini Rio memasang mawah melasnya. Setelah beberapa lama berdiam menunggu jawaban Ify, akhirnya gadis itu mengangguk juga.

***

1 komentar: