Jumat, 21 September 2012

About Us [11] Jodoh ??


About Us [11] Jodoh ??

Dengan sekali lirikan, Ify bisa dengan mudah menemukan Alvin di antara banyaknya pengunjung yang ada di dalam café. Ify tersenyum lalu melangkah mendekati Alvin. Laki-laki itu memilih tempat di ujung dekat dinding kaca. Tempat yang paling Ify sukai di café ini.

“Sorry, lama ya..?” Ify langsung saja menarik bangku kosong di depan Alvin. Tak sedikitpun Ify menyadari Alvin yang terkejut dengan kedatangannya walaupun akhirnya Alvin tersenyum.


Ada yang berbeda dari gadis ini. Alvin bisa merasakan aura lain yang tak pernah Alvin temukan dalam diri gadis cantik ini. Ya, tentu saja. Biasa melihat Ify dengan wajah juteknya tentu saja ia bisa dengan mudah menangkap perubahan itu. Kali ini, gadis itu tersenyum. Terlihat ceria dan bahagia.

“Kamu baru pulang sekolah ya?” Ify mengangguk. Dirinya kini masih memakai seragam sekolahnya, ditambah ransel cukup besar masih ada bersamanya. “Kamu mau pesan sesuatu? Makanan atau minuman?” tawarnya, karena memang dirinya sudah terlebih dulu memesan minuman.

“Aku pesan sendiri yaa..” masih dengan senyumnya, gadis itu kembali berdiri dan menghilang dari hadapan Alvin. Ify memang sangat terlihat cantik jika gadis itu tersenyum. Tapi, entah mengapa untuk saat ini Alvin lebih senang melihat Ify yang ketus seperti malam saat Ify baru pulang.

“Kok kayaknya saya lihat kamu lagi bahagia banget ya?” Ify yang baru saja duduk langsung nyegir saat Alvin melantarkan pertanyaan itu untuknya. memang begitu terlihakah bahwa ia sedang bahagia?

“Kok tahu sih?” tanya Ify. Alvin hanya tersenyum saja. Gadis ini memang sangat manis. “Mungkin karena sedikit demi sedikit bebanku hilang.” Ify tak bisa menyembunyikan rona kebahagiaan di wajahnya. Gadis itu tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi nantinya. Kehadiran Rio yang sangat membuatnya nyaman, hubungan dengan mamanya sudah membaik, dan nanti ia akan memiliki keluarga sebagaimana mestinya.

“Jadi, ada apa kakak tiba-tiba minta aku dateng kesini?”

“Kalau melihat keadaanmu yang seperti ini, saya yakin kamu sudah tahu tentang apa yang ingin saya bicarakan.” Ify mengerutkan dahi. Kemungkinan ia sudah tahu? Apa ini menyangkut pernikahan orang tua mereka?

“Ini tentang ayah saya dan tante Shintia.” Ify tersenyum. Dugaannya benar.

“Jadi mereka sudah memutuskan untuk menikah? Kapan?” tanya gadis itu dengan antusias.

“Kamu gak usah drama di depan saya..”Alvin tersenyum miring.

“Maksud kakak?”

“Saya tahu dari pertama kita ketemu, kesan kamu gak baik sama keluarga saya. Sepertinya kamu juga gak suka dengan kedatangan saya dan ayah saya.”

“Iya, tapi itu kan dulu kak. Sekarang………”

“Sekarang kamu bahagia kan karena pernikahan itu gak akan pernah ada!” Ify yang tak sempat meneruskan kalimatnya langsung menganga saat mendengar apa yang baru saja di katakan Alvin.

“Maksud kaka, pernikahan mama…”

“iya, pernikahan mereka batal.” Ify menggeleng geleng kepalanya. Ini tak mungkin. Pasti Alvin sedang mengerjainya. Baru tadi malam ia berhkayal bagaimana rasanya punya ayah. Baru kemarin malam ia merencanakan apa saja yang akan ia lakukan dengan keluarga barunya nanti.

Namun melihat raut wajah Alvin yang…. ahh entah bagaimana mendeskripsikannya, membuat harapan Ify musnah. Ify menunduk, rasanya semua harapannya musnah begitu saja. Semua rencana yang sudah ia buat berantakan begitu saja.

“Tapi saya gak akan menyalahkan kamu dengan semua yang telah terjadi. Saya hanya kasal pada diri saya sendiri karena terlalu berharap tante Shintia akan menjadi mama saya.”

***

Tanpa suara, Ify membuka pintu rumahnya. Melihat motor matic kasayangan mamanya itu, Ify tahu mamanya sudah ada di rumah. Entah apa yang harus ia lakukan. Ify sendiri pun tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Haruskah ia senang karena selama ini Ify tak mengengnkan mamanya untuk menikah lagi? Tapi itu dulu, saat ia masih belum menyadari pentingnya seorang laki-laki di kehidupannya. Terlebih, setelah ia mendapat segala perhatian dari Rio yang selama ini tak pernah ia dapatkan.

“Fy, baru pulang?” Ify mendongak sebentar saat ia melewati ruang keluarga dan menemukan mamanya sedang duduk manis menonton televisi. Ia tersenyum sebentar lalu  berniat melanjutkan langkahnya menaiki tangga untuk naik ke lantai dua. Mamanya tersenyum. Apa ia memang bahagia dengan keputusannya?

Baru saja selangkah ia berjalan, Ify kembali diam dan menoleh pada mamanya. “Ma, apapun yang terjadi mama harus cerita ke Ify.” Walau terlihat sedikit bingung, Shintia tersenyum dan mengangguk saat mendengar apa yang baru saja dikatakan Ify. Gadis itu membalas senyum mamanya dan akhirnya kembali melanjutkan langkahnya.

Sebenarnya Ify tak mau mengungkit-ungkit masalah batalnya pernikahan mamanya. Karena sebenarnya ia tak mau itu terjadi. Tapi, Ify ingin ada kejujuran di antara mereka. Walaupun ini memang sudah menjadi keputusan mamanya, setidaknya Ify ingin di hargai. Ify ingin mamanya meminta pendapatnya. Karena Ify merasa dia bukan anak kecil lagi.

***

Ify baru saja masuk ke dalam kamarnya dan langsung menemukan ponselnya berkerlap-kerlip di atas tempat tidurnya. Gadis itu langsung menyambar ponselnya itu.


Incoming call
0896244500xx

“Halloo..” sapanya begitu ia mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya itu.

“Fy, ini Rio..” Rio? Suara khasnya memang menunjukan penelepon itu memang terdengar seperti suara Rio. “Fy, elo gak papa kan?” Ify mengerutkan kening. Kenapa suara Rio terdengar seperti orang yang khawatir?

“Memangnya gue kenapa?”

Terdengar Rio menghela nafas di sebrang sana. “Gue sendiri gak tahu Fy. Perasaan gue kok gak enak ya? Terus tiba-tiba gue inget sama elo.”

Keduanya terdiam. Entah mengapa sejak dulu Rio memang sering tiba-tiba merasa seperti ini. Tiba-tiba gelisah. Tiba-tiba tak enak perasaan. Dan sekarangpun begitu. Perasannya tiba-tiba tak nyaman.

“Elo beneran gak papa kan Fy?” Tanya Rio sekali lagi. Ify tak habis fikir. Kenapa tiba-tiba Rio meneleponnya dan menanyakan keadaannya. Kenapa Rio gelisah saat Ify juga sedang tak enak hati?

“Memang ada yang sedikit mengganjal sih. Tapi, yaa gak usah terlalu dipikirin lah.” Jawabnya akhirnya. Ify tak mau berkata ia tak apa-apa padahal hatinya tak sama.

“Eh Yo, kok elo bisa tahu nomor gue sih?” tentu saja Ify langsung mengalihkan pembicaraan. Jarang-jarang ada yang meneleponnya saat ia sedang sedih seperti ini. Bahkan Prissy pun tak pernah. Kecuali Ify yang menelepon duluan dan sahabatnya itu tentu saja akan mendengarkan Ify dan berusaha menghiburnya.

“Elo kan bilang gue boleh tanya apapun tentang lo sama Shilla. Akhirnya gue minta nomor lo juga dari Shilla. Lo gak keberatan kan?”

Ify menggeleng. “Enggak kok Yo.” Tambahnya karena Ify yakin Rio tak akan bisa melihatnya.

“Emm.. besok kan hari Minggu Fy, gimana kalau kita jalan-jalan?”

“Jalan-jalan?”

“Iya. Muter-muter aja pake motor. Kemana kek..”

“Boleh..” jawab Ify.

“Jam sepuluh gue jempun elo di rumah ya?”

“Oke..”

“Ya udah.. sampai ketemu besok ya Fy..”

“Oke..”Ify tersenyum.

“Malem Ify..”

“Malem juga..” hampir saja gadis itu menutup sambungan teleponnya saat tiba-tiba suara Rio terdengar lagi di telinganya.

“Eh Fy..”

“Ya?”

“Kalau elo ada masalah, jangan sungkan cerita sama gue ya.”

“Iya..”

“Bye..” klik.. sambungan telepon itu benar-benar terputus. Ify tersenyum sama sambil memandang ponselnya. Dengan segera ia memasukan nomor Rio tadi pada list contacts di ponselnya.

Rio. Entah bagaimana caranya laki-laki itu tahu keadaanya, Ify tak peduli. Yang Ify tahu, sekarang ia tak sabar menunggu hari esok.

***

“Fy, temanmu udah dateng nih..” Mama berteriak dari bawah. Ify buru-buru menyelesaikan menyisir rambutnya. Tak lama ia langsung berdiri dari depan cermin besarnya dan segera meraih tas hijaunya di atas tempat tidur.

“Iya Ify turun.,.” terikanya setelah menutup pintu kamar dan berlari kecil turun ke bawah. Ify memang sudah bilang pada mamanya akan pergi bersama Rio hari ini.

Ia tersenyum lebar pada dua orang yang sedang duduk di ruang tamunya. Rio balas tersenyum, sedangkan mama malah gelang-gelang kepala. Ify sendiri tak mengerti kenapa mamanya itu malah geleng-geleng kepala.

“Sekali lagi, saya minta izin buat bawa Ify keluar tente.” Ujarnya sopan sambil sedikit menundukan badannya.

“Mama Ify pergi ya..” bergantian Ify dan Rio mencium tangan mama Ify. Shintia tersenyum. Senang sekali ia bisa mengenal Rio. Dari cerita Alvin, ia tahu Ify pulang diantar Rio.

“Eh,, kayaknya tante tahu apa yang dari tadi bikin tante familiar sama wajah kamu.” Ify mengerutkan kening. Sepertinya mamanya dan Rio membicarakan sesuatu saat ia belum datang tadi.

“Kamu mirip sama Ify ternyata..” Shintia tersenyum. Begitupun dengan Rio. Ify mengerutkan kening. Reflex pandangannya beralih memandang wajah laki-laki itu yang ternyata juga sedang memandang dirinya. Ify buru-buru mengalihkan pandangannya. Pipinya tiba-tiba memanas.

“Biasanya yang mirip-mirip kan jodah tanteaawww…”Ify mencubit lengan laki-laki itu. Rio hanya cengengesan walaupun tangannya sedikit perih karena cubitan kecil Ify. Shintia hanya geleng-geleng kepala malihat tingkah anaknya.

“Ya udah, mending kalian pergi sekarang deh. Kasian tuh anak tante pipinya udah kayak tomat gitu..” Ify mendelik pada mamanya yang dengan enaknya tersenyum lebar sedangkan Rio masih memerhatikannya.

“Udah ah.. ayo Rio pergi.. Ma aku berangkat yaa..” Ify menyeret Rio untuk segera pergi saat mamanya tertawa malihat tingkah anaknya itu.

Setelah dua jam berputar-putar di dalam kota, akhirnya Rio mengajak Ify ke bukit  di sebelah selatan kotanya itu. Sebuah bukit yang tepat menghadap pusat kota yang sering dijuluki sebagai kota tahu itu.

Setelah memarkirkan motornya, Rio mengikuti Ify yang sudah duduk duluan di atas rerumputan liar yang tumbuh disana.

“Elo suka tempat kayak gini?” Tanya Rio saat ia telah duduk tepat di sebelah Ify.

“Suka banget Yo. Cuma sayangnya nyokap gue gak suka sama tempat-tempat kayak gini. Gak tahu deh kenapa.” Ify mengembungkan kedua pipinya membuat Rio makin gemas saja melihat gadis cantik ini.

“Iya? Mama sama Shilla juga gak suka sama tempat kayak gini. Papa yang suka main di alam kayak gini.” Ify mengangguk-angguk.

“Oh ya Fy, bokap lo lagi keluar ya. Kok tadi gak keliatan?” pertanyaan Rio sontak saja membuat raut wajah Ify berubah. Kepana Rio menanyakan sosok ayahnya? Padahal selama ini tak pernah ada yang peduli dengan ayahnya.

“Emm.. gue,, gue gak punya papa Yo.” Jawabnya lirih. Rio langsung menoleh saat mendengar jawaban Ify. Ya Tuhan, apa ia salah bicara?

“Sorry Fy.. gue,,, gue gak bermaksud…”

“Gak papa kok Yo. Gue udah biasa. Gue memang gak pernah tahu apa itu yang namanya papa. Gue gak pernah tahu siapa papa gue.” Entah mengapa akhirnya Ify yang menceritakan sendiri tentang ia yang memang tak punya ayah itu. Ify tak memperhitungkan apa yang akan ia terima deri reaksi Rio yang nantinya laki-laki itu berikan padanya. Mungkin saja kan Rio malah akan menjauhinya karena ia adalah gadis yang tak jelas siapa ayahnya?

“Fy, gue bener-bener gak tahu..” melihat raut wajah Ify yang sedikit murung membuat dirinya ikut merasakan apa yang gadis itu rasakan. Mungkin perasaan itu datang karena Rio sendiri pernah merasakannya.

Ify tersenyum. “Kok reaksi lo biasa aja sih Yo?”

“Emangnya gue harus gimana?”

“Ya siapa tahu elo mau jauhin gue karena gue gak punya papa.” Jawabnya. Rio malah tertawa. Apa Ify fikir pikiran Rio sependek itu?

“Kok elo ngomong gitu sih Fy? Emang gue sebodoh itu? Gak mungkin kali gue langsung jauhin elo sementara pejuangan gue sampe kenal lo aja susah banget.” Ify tersenyum . dasar gombal! “Eh fy, cowok yang waktu itu ada di rumah lo itu siapa sih? Sepupu lo ya?”

Ify berfikir sebentar. Laki-laki yang mana ya? “Emm.. Kak Alvin maksud lo?” Rio mengangkat bahunya. Ia yang bertanya kok malah balik diberi pertanyaan?

“Yang waktu gue nganterin elo balik Fy. Yang malem-malem.” Tambahnya lagi.

“Oh iya itu kak Alvin. Dia, tadinya dia calon kakak gue.”

Rio mengerutkan kening. “calon kaka? Maksudnya nyokap lo mau ngadopsi dia gitu?” Ify menggeleng dan sedikit tersenyum geli.

“Bukan, tadinya mama mau nikah sama papanya kak Alvin.”

“Lho? Terus kenapa? Gak jadi?” Ify menggeleng. ia kembali tersenyum getir dan membuat Rio kembali merutuk. Kurang dari satu jam dia membuat Ify bersedih.

“Eh kalau gak mau jawab ya gak usah di jawab Fy..” Rio gelagapan. Tinggah Rio itu justru membuat Ify terkikik geli.

“Gue yang bikin mereka gak jadi nikah. Dulu gue kan rada antipati gitu sama cowok. Gue mungkin udah keterlaluan sama mereka. Jadi yaa pernikahannya batal.” Ify menceritakan pertama kali ia bertemu dengan Om Tama, saat calon ayahnya itu mengejak mereka jalan-jalan, sampai Alvin yang rela menunggui mamanya saat ia menghilang. Sebenarnya itu bentuk kekecewaannya pada sikapnya sendiri karena menyia-nyiakan laki-laki sebaik om Tama dan Alvin.

“Bodoh banget ya gue. Udah mau dapet papa sekaligus kakak yang baik banget, eh malah karena gue juga mereka mundur.”

“Kalau memang mereka jodoh, gak akan kemana kok.” Rio tersenyum. Ahh senyum itu ternyata manis sekali dan begitu menenangkan. Ify ikut tersenyum. Perasaannya memang sedikit lebih lega. Andai saja dulu ia tak egois, pasti sekarang ia sedang repot-repotnya mengurusi pernikahan mamanya.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar