Jumat, 13 Juli 2012

About Us [04] Biarpun Sedikit..


About Us [04] Biarpun Sedikit 


Mungkin dari satu dari sepuluh orang di dunia menganggap rumah adalah tempat menyebalkan yang membuat kita merasa terkurung dan tak mendapatkan kebebasan. Sama halnya seperti gadis cantik yang belakangan ini tak pernah merasa betah di rumahnya. Ketidak sepahaman dirinya dan ibundanya membuat rumah terasa seperti pasar minggu yang tak pernah sepi. Setiap saat bertengkar dan akhirnya membuat Ify tak betah dan sering menghabiskan waktu di tempat lain. 


Namun lain halnya dengan Rio, ia sangat menyukai suasana rumahnya. Apalagi saat sedang makan malam seperti sekarang. Tak pernah sekali pun ia sengaja melewatkan momen ini. Dimana saat saat ia berkumpul dengan keluarganya – papa, mama, dan Shilla- setiap hari.

“Apa aja yang kalian lakukan hari ini?” tak bermaksud ingin membatasi ruang gerak anak-anaknya, papa selalu menanyakan apa yang telah di lakukan anak-anaknnya setiap harinya.  Dengan mulut yang masih penuh nasi, dengan semangat Shilla mengangkat tangannya tingi-tinggi. Seolah memesan waktu untuk semuanya menunggunya bicara sampai nasi di mulutnya habis.

Papa geleng-geleng kepala, mama dan Rio pun tak jauh berbeda. Memang Shilla lah yang paling heboh di antara anggota keluarganya yang lain.

“Tenang aja kali Shil, gak ada yang mau nyerempet elo kok”

“Rio..” Rio hanya terkekeh saat mamanya menegurnya. Memang sebegitu pentingnya ya sampai Shilla harus bertingkah seperti itu. Setelah makanan yang ada di mulutnya habis, Shilla tersenyum dan melirik Rio dengan ekor matanya.

‘Liat aja Rio, habis ini elo gak akan bisa ngetawain gue lagi. haha’ Masih tersenyum Shilla membatin. Lalu segera ia mengalihkan pandangannya tepat ke arah papanya.

“Pa, Rio punya gebetan baru loh di sekolah”

“Uhuk uhuk…” Rio yang baru saja akan menghabiskan coklat panasnya langsung tersedak begitu mendengar apa yang Shilla katakan pada papa mereka. Rio langsung menyimpan gelasnya dan menepuk-nepuk dadanya.

“Hati-hati Rio..” karena mama yang ada di dekatnya, wanita parus baya itu mengelus punggung Rio dengan pelan. Shilla tertawa puas melihat Rio yang sepertinya tak menyangka mulutnya akan berkata begitu.

“Bener Yo? Siapa? Anaknya baik gak?” Masih dengan sisa batuknya, Rio mendelik pada Shilla dan sedikit menyerongot tanpa suara. Gadis itu hanya terkekeh.

“Bener Pa, namanya Ify, dia temen sekelasku. Orangnya baaaiiikkkk banget, dia juga pinter.” Dengan bangga Shilla memperkanalkan Ify pada orang tuanya. Sementara Shilla tersenyum dengan bangga karena berhasil memperkenalkan Ify pada orangtuanya, Rio malah tambah melotot pada Shilla.

“Enggak kok Pa, elo apaan sih Shil!” mama dan papa tersenyum melihat tingkah kedua anaknya.

“Alah bohong banget sih Yo”

“Apa sih lo Shil!”

“Kalian ini. Mama sih gak papa kalau kalian udah mulai suka sama lawan jenis. Yang penting tau batasan”

“Iya Ma, itu juga Rio tau..” katanya. Rio melanjutkan kembali menyuap makanan yang tadi sempat tertunda. Mama mengangguk sambil tersenyum. Ternyata anaknya ini memang sudah besar.

“Jadi, kapan papa mau dikenalkan sama yang namanya Ify itu?” Rio kembali terbengong. Ia berhenti mengunyah makanannya.

“Apoon soh popo..” Semuanya tertawa. Mamang tak ada yang bisa mengurangi keharmonisan keluarga ini. Papa yang bijaksana, Mama yang lembut dan Shilla yang jahil membuat Rio merasa menjadi seorang yang sangat beruntung memiliki keluarga kecil ini. Ia jadi terngat pada Ify.

‘Lo lagi ngapain ya Fy? apa elo juga jutek sama keluarga elo? Atau elo cuma jutek sama gue karna gue liat elo gak pernah jutekin Shilla atau Prissy temen lo itu.’ 

***

Gadis tu menunduk sekali lagi untuk mengikat tali sepatunya. Setelah terikat dengan rapih, Ify berdiri hendak pamit untuk pergi ke sekolah.

“Ma, Ify berangkat yaaa…” sedikt berteriak Ify pamit pada mamanya untuk pergi ke sekolah. Karena tak ada jawaban, Ify pun memutuskan untuk pergi saja. Toh mamanya pasti tau ia sudah pergi. Namun, baru saja beberapa langkah berjalan menuju pintu, wanita patuh baya itu pergopoh-gopoh lari  ke ruang tamu dan mencegah Ify untuk pergi.

“Fy, tunggu sebentar..”

Ify berbalik. “Kenapa? Mama mau berangkat bareng Ify? Ayo kalau gitu. Ify hampir telat. Pris –”

“Gak usah buru-buru Fy. Om Tama mau jemput kita hari ini. Tuh mobilnya udah dateng” Langsung saja kepala Ify berputar melihat ke arah pagar rumahnya. Barus saja datang mobil jenis sedan berwarna silver dan tak lama, keluar seorang laki-laki paruh baya dari balik kemudi.

“Ayo Ify, Om anter ke sekolah ya?” Ify amat tak senang melihat wajah yang –menurutnya- sok ramah itu. Ify hanya mencibir lalu melangkah mendekati mobil dan pemiliknya.

“Gak usah Om. Saya biasa naik bus.” katanya dingin. Ify melrik mamanya yang memandangnya tak suka saat ia menolak mentah-mentah ajakan calon suaminya itu. Ify hanya tersenyum miring lalu bergegas meninggalkan tempatnya berdiri.

“Fy, kamu naik taksi aja kalau gitu. Om panggilin ya..” Ify kembali menoleh. Benar-benar tak suka melihat wajah Om Tama yang mengharapkan dirinya mengangguk dan tersenyum manis.

Ify mendelik kembali tersenyum miring. “Saya bukan anak manja yang harus naik taksi setiap mau pergi ke sekolah!” tak peduli dengan reaksi laki-laki itu Ify segera saja pergi meninggalkan mereka. Mudah-mudahan saja sikapnya tadi membuat Om Tama tak suka padanya dan tak jadi menikahi mamanya. Ify tak peduli dengan apa yang akan ia dapat dari mama saat pulang nanti. Yang jelas, Ify tak suka mamanya menikah lagi.

Dengan langkah besar-beras Ify berjalan menuju halte di depan gapura menuju rumahnya. Masih kesal pada mamanya yang masih saja berusaha mendekatkan dirinya dengan calon suaminya itu padahal Ify sudah menolak mentah-mentah dari awal.

Tiba-tiba langkahnya terhenti saat di depannya terlihat sepatu berwarna kuning dengan tali putih mengikat sepatu itu. Sepertinya Ify kenal sepatu ini. Langsung saja ia mendongak, ingin mengetahui siapa pemilik sepatu ini.

“Prissy, elo kok disini?” Dlihatnya Prissy ada di depannya dengan kedua tangan yang di lipat di dada. Melihat Prissy yang seperti itu membuat Ify merutuki kalimatnya tadi untuk bertanya sedang apa sahabatnya itu. Prissy mengetuk-ngetuk salah satu kakinya sambil menunggu Ify yang malah menyengir sambil menggaruk tengkuk kepalanya.

“Sorry..” katanya. Ia tau Prissy sedang menungguinya. Rumah Prissy terletak sedikt lebih jauh dari rumah Ify dari sekolah. Karena kebetulan satu arah, sejak awal mereka memutuskan untuk pergi bersama dengan catatan Ify tak boleh sekalipun terlambat karena mereka akan bertemu di dalam bus yang telah Prissy naiki sebelumnya.

“Elo TELAT!” katanya dengan mata melotot. Ify masih bertahan dengan cengirannya. Ia tau, Prissy pasti tak menemukannya di halte ini dan memutuskan untuk turun dan menunggu Ify di sini. Tentunya dengan resiko ongkos harus dua kali lipat.

“Gak mau tau elo ongkosin gue sampe ke sekolah!” Ify pun mengangguk pasrah. Memang hari ini dia yang salah. Ify telat bangun dan akhirnya telat juga sampai ke halte ini. Setelah beberapa saat menunggu, bus yang akan membawa mereka ke sekolah pun akhirnya datang dan mereka pergi keselolah bersama.

***

Matahari bersinar begitu terik. Siang-siang begini memang bukan saat yang tepat untuk lari mengitari lapangan berkali-kali. Namun itulah yang sedang Ify dan Prissy lakukan. Karena keterlambatan Ify dan mereka harus menunggu bus berikutnya yang membawa mereka ke selolah, Ify dan Prissy tiba di sekolah lima belas menit setelah bel berbunyi.

“Fy, gue cape..” Prissy menurunkan kecepatannya dan akhirnya berhenti. Kini Ify sudah berada jauh di depannya. “Ify, jangan lari sendiri dong. Tungguin gue!” katanya. Ify sama sekali tak menggubris. Ia malah semakin cepat berlari karena ingin segera menyelesaikan hukumannya.

“Ayo Pris, jangan lelet gitu dong. Empat putaran lagi nih!!”

“Apa? Empat putaran lagi? Gue pngsan aja deh Fy.” dengan napas yang terputus-putus Prissy memutuskan untuk duduk sebentar sambil mengistirahatkan kakinya yang ia selonjorkan. Aneh, mengapa Ify masih saja bisa sekuat itu padahal dia sudah lari enam belas putaran lapangan basket –kalau memang sisa putarannya tinggal empat lagi-

“Itu gue Pris. Elo kan ketinggalan dua putaran di belakang gue. Nah sekarang tiga. Haha” katanya saat Ify kembali melewati Prissy yang terduduk lesu. Prissy makin malas saja menjalankan hukumannya. Kalau begitu, Prissy masih punya enam putaran sedangkan Ify tinggal tiga putaran lagi? Kalau begini mendin pingsan sekalian.

Dengan malas, Prissy kembali berdiri dan melanjutkan hukumannya. Ia tak mau dapat hukuman lagi karena tidak menjalankan hukumannya dengan baik. Anehnya, Pak Andre –guru yang menghukum mereka- selalu tau bila anak yang sedang di hukum itu berbohong.

“Pris, ayo masa dari tadi Cuma dua putaran aja sih.. ingat Pris, empat lagi. Hahaha… Gue aja udah selesai nih!” Bak seorang pemandu sorak pasukan penyemangat, Ify berteriak menyemangati sahabatnya itu sambil meloncat-loncat kecil seolah tak pernah kehabisan tenanga. Prissy memandang sebal karena Ify tak mau menemaninya lari menghabiskan sisa hukumannya.

Iya lah. Siapa juga yang mau lari lagi setelah menghabiskan dua puluh putaran . Oke, kali ini Prissy mengerti mengapa Ify tak mau melakukannya lagi.

Akhirnya Ify duduk dan berhenti menganggu sahabatnya itu. Ify menelan ludahnya, tenggorokannya baru terasa kering. Tentu saja, siapa yang tak kehausan setelah lari dua puluh putaran lapangan basket dan berteriak menyemangati Prissy.

“Pris, gue ke kantin ya beli minum..” Prissy menoleh pada Ify, lalu mengangguk. Yah, dua putaran lagi. Semangat !!
“Tapi beliin gue juga Fy..” Ify mengangkat kedua jempol tangannya dan segera berdiri.

Baru saja berdiri dan berbalik, Ify terkejut mendapati seorang laki-laki tengah berdiri di depannya.

“Haii..” Ify melengos. Kenapa ia harus bertemu dengan laki-laki ini lagi sih. Langsung saja Ify menggeser ke kanan untuk menghindari laki-laki itu. Tapi dia malah ikut melangkah ke kanan Ify. Ify kembali melangkah ke kiri. Laki-laki itu juga melangkah ke kiri Ify. Begitu lah seterusnya sampai beberapa kali.

“Elo ngapain sih ngalangin jalan gue?”

“Lho, sekolah ini punya elo ya? Baru tau gue..” Ify mengerutkan kening. Apa sih? Siapa yang bilang sekolah ini miliknya.

“Elo jangan macem-macem deh..”

“Enggak kok. Cuma satu macem aja. Nih buat elo.” Rio tersenyum sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin pada Ify. Sepertinya air itu baru saja diambilnya dari kulkas.

“Sini sini minumnya buat gue. Gue dehidrasi..” tiba-tiba Prissy menhampiri mereka dengan keringat yang keluar dari pori-pori kulitnya. Wajahnya sangat terlihat merah kerena lelah dan kepanasan. Baru saja tangan Prissy hendak meraih botol mineral yang masih di pegang Rio, Rio menarik kembali dan membuat Prissy mengeluh kecewa.

“Gak bisa. Ini buat Ify buka buat elo!” katanya. Prissy meringis. Kenapa hari ini ia sial terus?

“Ini buat elo Fy. Tadi gak tau kenapa gue ada feeling aja elo ada di sini. Terus pas lewat kantin gue jadi pengen beli minum, eh taunya elo lagi kecapean disini. Nih..” Rio sendiri masih bingung kenapa feelingnya bisa setepat ini. Rio kembali menyodorkan botol air mineral itu di depan Ify. Ify menoleh pada sahabatnya itu. Prissy terlihat begitu sebal. Ify tersenyum miring. Ia kembali menatap Rio, botol mineral lalu kembali pada Prissy.

“Oke, thanka ya..” Ify menerima botol itu dan segera membuka segelnya. Rio tersenyum senang melihat Ify yang kini telah membuka tutupnya dan meminumnya sampai habis seperempat dari isinya.

“Nih, buat lo.” Ify memberikan botol mineral itu pada Prissy.

“Lho lho? Kok di kasiin sih Fy?”

“Kenapa? Elo udah kasih ke gue kan? Terserah gue dong mau di gimanain juga. Yuk Pris.” Rio melotot. Ify dan Prissy begitu saja meninggalkannya.

“Makasih ya Rio..” Prissy melambai-lambai tangannya sambil berterma kasih pada Rio.

“Yaa terserah elo lah Fy.. seenggaknya elo minum air dari gue. Yah, walaupun cuma sedikit..” Rio pun bergegas pergi meninggalkan lapangan. Pasti Shilla ngomel kalau kelamaan nunggu.

***

1 komentar:

  1. merit casino online casino bonus codes - Xn
    efony 메리트카지노총판 casino online หารายได้เสริม casino bonus codes I have just worrione recently started my online casino online gambling activities and found that i would

    BalasHapus